Kamis, 17 Agustus 2017

My Story: Walking Dead Real Life

Kalo elu pernah nonton sinetron Walking Dead, elu pasti tahu sinetronnya dimulai dengan adegan bapak polisi yang bangun di rumah sakit dan menemukan dunianya sudah kiamat.

Yang mau dicurhatin diomongin di sini adalah bahwa setiap dari kita pernah mengalami efek intro Walking Dead. Momen masing-masing orang berbeda, tapi ya gue mengalami hal begini beberapa bulan lalu dan momen gue adalah sehabis gue dapat "cap di buntut". Dalam sekejap mata, gue merasa dunia di sekeliling gue telah berubah. Bukan kiamat sih, tapi mendadak gue merasa asing seperti ada di negeri orang.

Jika dulu gue merasa hidup gue cukup maksimal 4 tahun aja, sekarang nambah jadi seumur hidup. Teman-teman hang out bareng mendadak berkurang, keluarga gue mendadak jadi orang asing, ortu gue mendadak jadi tua dan sakit, gue jadi ga terlalu suka membaca novel dan menulis. Simpangan jalan depan gue mendadak jadi gede-gede dan satu arah semua. Kalau sampe salah ambil jalan, muternya nun jauh di sana dan buang-buang waktu. Dan emang sih, jika menengok ke belakang ternyata gue udah banyak banget buang-buang waktu untuk hal-hal ga penting dan mikirin hal-hal yang ga penting. Padahal gue udah tahu, bahwa segala hal adalah alfa dan omega. Ada mulai dan ada akhir. 

Ujungnya hidup apa? 

Ya mati

Gila juga sih, umur tigapuluhan mikirnya udah mati. wkwkwk... Walaupun memang ada orang mahmud ( bukan mamah muda yah, maksudnya mahti muda), tapi gue sendiri meyakini pikiran gue lebay.

Tapi (lagi) gue bener kan? Ujung hidup ya mati. Memang ada agama yang mempercayai bahwa ujungnya mati ada reinkarnasi jadi hidup lagi. Gue sih nggak menolak kemungkinan itu, tapi gue sendiri percaya bahwa ujungnya mati yaa... nggak ada lagi hidup seperti yang sedang gue jalani sekarang. Palingan hidup yang ada adalah ya hidup kekal yang sejujurnya gue ga kebayang seperti apa. (Ampun Tuhan. Maapin aye.)

Nah, balik lagi ke dunia asing yang baru gue datangi ini. Gue sebenarnya sadar, dunianya sih masih sama-sama aja, tapi gue nya yang sudah berada di keadaan yang berbeda dari sebelumnya, begitupun orang-orang di sekeliling gue emang berubah, karena manusia memang dinamis, dan gue memandang mereka dari sudut pandang yang berbeda. 

Hal ini membuat gue mulai nunjukkin gejala-gejala depresi ringan, seperti nambah gendut dan gangguan tidur. Yang menyelamatkan gue adalah sebuah buku lama yang direvisi bernama Purpose Driven Life. Isinya tentang perjalanan 40 hari mencari cinta makna hidup. Buku ini betul-betul menyadarkan gue bahwa hidup BETUL-BETUL endingnya adalah MATI. Dengan pemikiran gue sendiri, gue sadar bahwa Tuhan bilang "Akulah alfa dan omega." (Wahyu 22:13). Jika lahir adalah alfa, dan mati adalah omega, maka dari awal hingga akhir semuanya adalah tentang Tuhan.

Mulai dari situ, mata gue betul-betul dibukakan. Bahwa bagaimanapun juga, fokus kita harus kepada Tuhan. Apa yang menjadi prioritas kita semuanya harus Tuhan. Gue pun mulai belajar untuk tidak egois, hal yang menjadi salah satu kelemahan gue selain gampang ngamuk. Dunianya sama, tapi manusia harus berubah menjadi lebih baik dan serupa dengan Penciptanya. Sulit, tapi setidaknya gue mulai melakukan baby step. Bahkan memilih di persimpangan jalanan satu arah yang sulit itu pun, akhirnya berhasil gue putuskan sendiri dan... gue percaya harusnya tidak akan ada penyesalan (yang ini lain kali aja ceritanya).

Akhir kata, gue melakukan apa yang si bapak polisi dalam Walking Dead itu lakukan di dunia kiamat itu...

Tetap melangkah.


Selasa, 07 Juni 2016

Sedikit Tantangan Untukku

Hampir dua minggu gue bete-bete nggak jelas. Rasanya semua orang mau gue headbang. Penyebabnya nggak jelas. Gue memang sedang mengerjakan tugas akhir, which is terdiri dari beberapa tahap, yakni:
1. nentuin judul
2. bikin proposal usulan penelitian
4. maju proposal
5. masuk etik dan buat izin lokasi
6. penelitian
7. selesai penelitian mengolah data
8. Jungkir balik mengarang kesimpulan
9. Maju laporan pendahuluan
10. maju teshit.

Dan gue sudah selesai tahap 5.

Udah setengah jalan dongs?? Dan konon, tahap 5 ke tahap 6 itu masa2 penantian yang indah. Lo bisa melakukan apa aja yang lo inginkan. Bahkan ada temen gue yang merid di tahap ini!! Kebayang nggak keribetan urusan merid bisa dilakukan di tahap ini?!! (Gue belum pernah sih, tapi kata orang-orang gitu)

Tapi anehnya gue merasa gundah gelisah. Segalanya nggak terasa menarik lagi bagi gue. Mana ditambah lagi hape Cina Kesayangan gue rusak. Makin komplit lah itu bete.

Karena gue udah lama berniat mengkhianati si Cina Kesayangan dan ngincer hape baru si Berkilau G4 (pengennya si G5 tapi tahu diri lah, kantong nggak level), gue pun memantapkan diri mau jemput si G4 di toko hape yang ramah kantong dan cicilan. Namun, gue masih penasaran dengan si Cina Kesayangan. Kok bisa2nya rusak.... yaaa memang sudah lama error sih. Kamera selfinya bolak-balik error (untung gue senengnya wefie, sebab selfie hanya untuk orang kesepian #ups), sering hang, batere cepet habis, beberapa aplikasi kagak jalan, memori internal full melulu padahal udah buang2in aplikasi less penting. Tapi tetap saja, semua ini terlalu tiba-tiba. Mendadakan segala macam error di atas ditambah apps Notes, Line, Webtoon, WhatsUp nggak bisa dibuka alias force close in Javanese keblinger. 😂

Walaupun nggak rela kehilangan catatan2 penting dalam Notes, apa boleh buat, harus diformat ulang si Cina butut Kesayangan ini. Toh nggak bisa dibuka juga.
Klik.
Dengan hati patah, sembari mengutuki diri sendiri yang tidak mem-backup catatan2 penting itu, gue pun menekan pilihan format ulang. (Gue nggak lebay lho, ini beneran gambaran perasaan gue saat itu. 😭😭😭 )

Segera saja, hape gue bersih sih sih sih. Namun pengharapan semuanya akan baik-baik saja pupus begitu saja ketika gue tetap saja nggak bisa membuka Line. Eaaaa 😠😠😠 Mulai kesel deh. Kepalang nanggung, gue pun kembali memformat ulang. Padahal udah hampir seharian gue titip itu hape di teman gue yang duduk di sudut perpustakaan yang berlimpah sinyal Wi-Fi demi menginstal ulang apps2 penting yang biasa gue pake.

Eehh.. ternyata setelah diformat ulang, hal sama berulang. Setelah beberapa kali format ulang, gue bahkan menemukan bahwa gue nggak bisa log in ke akun miui (akun os khusus merk si Cina Kesayangan) dan akun Google PlayStore!! Bikin ngamuk nggak tuh? 😠😠😠😠😠 Puncaknya, gue nggak bisa buka Message alias SMS. Ya elah, apps sesimpel gitu aja pun ikut error!

Serangkaian kejadian ini membuat gue pun menyerah, dan memutuskan membelot ke G4 for good. Tapi nunggu minggu baru sambil menghitung2 isi kantong. Sementara itu, gue memindahkan salah satu SIM card gue ke Tab lama gue, predecessor si Cina Kesayangan. Gue ganti kala itu karena touchscreen-nya yang udah ngaco.

Selama sehari nggak gue sentuh si Cina Kesayangan. Tapi namanya aja "Kesayangan", gimana nggak sayang coba? Dia adalah hape pertama yang gue beli dengan kocek sendiri setiap rupiahnya. Mulai lagi deh, gue bedah2 isi perut Mbah Google. Dari macam2 info, dari situlah gue ngeh, bahwa mungkin serangkaian kejadian error yang si Cina alami adalah akibat Rooting. Iye sih. Ini hape segera gue root seminggu setelah gue beli. Karena gue suka main game dan instal apps yang berat-berat jadi butuh memori lebih dari 8GB yang ditawarkan si Cina. Gue pakai memcard 32GB dan cukup puas dengan hasil root (kala itu).

Selain itu, kita juga jangan instal Rom abal2. Installah Rom original yang ada di web official. Berbekal itu, gue coba sekali lagi format ulang biar isa instal rom asli. Alhasil si Cina menolak masuk ke menu utama setelah format ulang. Ajegile kan. Mau dijual, eh malah error parah gini bisa2 harganya turun. 😞 Dan biaya rencana pembelotan gue bertambah.

Hnah, untung gue inget artikel yang gue baca dulu saat gue root si Cina. Saat itulah gue inget istilah bootloop. Ini adalah kondisi dimana hape yang nggak bisa masuk menu utama sehabis reboot. Persis kondisi si Cina saat ini! Dan di artikel itu ada cara untuk mengatasi kondisi ini, yakni dengan Flashing alias instal ulang. Cara ini membutuhkan bantuan laptop/PC dan kabel usb bawaan si Cina. Selengkapnya bisa didapat dengan membedah isi perut Mbah Google. Tapi lebih baik sih baca petunjuk yang ada di dalam web resmi.

And...

Boom!

Si Cina kembali normal.

Kendati setelannya jadi setelah di negeri Panda dan apps PlayStore hilang, segalanya normal. Bisa buka SMS lagi! Memang butuh cari sendiri beberapa apk, tapi not a probs of cors. 😂 Bahkan setelah itu gue menemukan apdetan os internal khusus si Cina versi terbaru (miui 7).

Seneng banget gue setelah itu. Rasanya seperti punya hape baru. Apdetan OS baru itu cakep bingits. Ditambah lagi, penyakit si Cina yang dulu hilang. Batere lebih awet, kamera bagus lagi, memori internal lengang, nggak pernah hang lagi. Tentu aja, gue kapok nge-root. Biarlah gue menjadikan si Cina Kesayangan apa ada dirinya.

Rasa senang gue ternyata berlanjut. Entah kenapa, hari-hari gue jadi lebih terasa menyenangkan. Gue masih tetap berada di tahap 5 tugas akhir gue, tapi gue merasa lebih hepi, lebih enjoy memanjakan diri gue di waktu senggang ini. Dan, gue menulis curcolan ini bukan untuk menyombong bahwa gue bisa memperbaiki sendiri hape gue (okay, itu setengah bohong. Gue bangga opcors wkwkwk), tapi gue mau membagikan sedikit saran bila kebosanan dan kebetean menyerang lo, people said that's the right time to go travel, tapi nggak semua orang bisa melakukan ini bukan? Jadi challenge yourself. Melakukan hal monoton atau tidak melakukan pekerjaan apapun bisa mendepresikan orang. Itu yang terjadi pada gue. Tetapi hal itu berubah begitu gue berhasil menyembuhkan si Cina Kesayangan. 😉😉😉

Sabtu, 02 Januari 2016

The Note (1)

Halo. Membaca itu menyenangkan, bukan? Semoga harimu menggembirakan.

Selesai membaca carikan kertas yang dilipat itu, melintaslah gambaran-gambaran asing dalam benak Raff. Cepat seperti kejapan mata, namun kuat terpatri bak pengalaman sendiri.

Napas Raff seolah terhenti kala mendapati gambaran lembut hati yang menyelipkan kertas itu di dalam buku Sejarah Alkimia. Sayang, wajahnya tak terlihat. Satu-satunya yang didapat dari sosok itu selain kelembutan hatinya, adalah jubah merah muda yang dikenakannya.

Dahulu Raff mengutuk kekuatan membaca kenangan benda yang dimilikinya itu, sebab hampir selevel para Nihil -manusia tanpa kekuatan sihir. Kekuatan yang menjadi kekhususan keluarga Vizori ini, seharusnya menjadi kekuatan yang sangat berguna. Seorang Vizori biasanya kerap diminta bantuan oleh pihak kepolisian untuk memecah kasus sulit. Ged, kakak Raff, banyak berhubungan dengan para detektif sejak usia dua belas tahun sebelum kemudian mendaftar sekolah kepolisian. Itu empat tahun lebih muda dari usia Raff saat ini.

Tapi itu dahulu, sekarang Raff sudah tidak terlalu peduli. Ia sudah menerima kemampuannya hanya bisa melihat sekilas, selintas, kurang lebih satu detik. Tak seperti umumnya Vizori lain, minimal lima-enam detik. Hanya saja saat ini, gambaran lembut hati itu membuatnya sangat penasaran. Tempat ia berada saat ini adalah bagian perpustakaan sekolah sihir Leafari yang paling jarang didatangi murid sebab berisi buku-buku non-sihir yang umumnya tidak menarik. Selama ini Raff mengira hanya dirinya yang suka mendatangi bagian ini oleh karena kegemarannya membaca kisah-kisah kaum Nihil. Jika ada orang selain dirinya yang suka mendatangi bagian ini, maka Raff ingin mengenalnya.

Kertas itu nampak lusuh, namun warna putihnya nampak kontras dengan buku tua tempatnya diselip, menandakan belum lama kertas ini berada di sana. Tulisan dengan pena hitam di atasnya seolah menari-nari di mata Raff, memberikan tantangan untuk menemukan penulisnya, menggelitik darah Vizori penyuka tantangan dalàm dirinya.

----to be continued----

Come back nulis setelah sekian lama. Rencananya mau rutin. Tapi yaa.. Semoga saja bisa. Amin.

Kamis, 31 Desember 2015

BERUSAHA INSOMNIA: Efek Kupu-Kupu Tahun Terbaik

Pernahkah kamu memikirkan bagaimana caranya kamu bisa tiba di tempat yang saat ini sedang kamu tempati? 

Misalkan kamu ke Bandung dan caranya kamu ke sana dengan naik mobil. Mobil berbahan bakar bensin. Bensin berasal dari pom bensin. Pom bensin dikelola oleh para petugas pom bensin. Bensin juga diolah dari minyak bumi. Dikirim oleh truk tangki minyak yang besar dan memakan tempat itu ke pompa bensin tempat kamu isi bensin. Truk dikemudikan oleh seorang supir, yang punya anak istri, rumah...

NAH! Pernah nggak, berpikir bagaimana bila istri supir truk tangki minyak itu lagi PMS terus memicu pertengkaran rumah tangga dengan suaminya. Suaminya berangkat kerja dengan uring-uringan pula, kemudian nggak konsen mengendarai truknya, sehingga truknya kecelakaan, sehingga (lagi) bensin tidak dapat diantar ke pompa bensin dan akhirnya kamu tidak dapat bensin sehingga (lagi-lagi) tidak bisa pergi ke Bandung.

Kesimpulannya, karena istri supir truk bensin PMS, kamu tidak bisa pergi ke Bandung.

Jayus ya?

Yea, ini hanyalah ilustrasi butterfly effect sok ngena (nggak kena juga rapopo, yang penting sudah mencoba.), betapa apa yang terjadi pada kita hari ini semuanya berhubungan satu sama lain, berasal dari sesuatu yang kecil-kecil, sekecil keputusan sang istri supir truk tangki bensin untuk uring-uringan pada suaminya.

Daripada memikirkan resolusi tahun depan, saya lebih tergugah dengan apa yang telah saya lewati di tahun 2015 ini. Buat saya, 2015 adalah tahun yang paling bermakna dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Entah sejak kapan, saya kehilangan jati diri dan saya baru menyadari hal itu persis tahun lalu -tepatnya 5 Desember 2014- sehingga menuntun pada sebuah keputusan bulat. 

Saat itu semua jalan telah tertutup. Tuntunan ilahi membukakan mata saya melihat, hanya ada dua jalan. Lurus, namun terjalnya minta ampun sebab ada sebuah batu besar di depan saya yang sangat sulit dipanjat. Yang satu lagi, Belok, namun membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai tujuan. Saya pun memilih yang kedua. Kendati pun saat memutuskannya, hati saya remuk.

Pada awalnya 2015 menjadi tertuduh perusak diri bagi saya. Namun satu demi satu, dengan bantuan kiriman ilahi melalui keluarga dan teman-teman terbaik, yang terjadi justru sebaliknya. 2015 memberikan banyak waktu dari kumpulan hal-hal kecil menjadi suatu kesempatan untuk menata yang berantakan dan menemukan yang hilang.

Memang ada makhluk yang menyesalkan mengapa hal itu bisa terjadi. NAMUN saat ini, saya tahu bahwa itu adalah keputusan paling tepat yang pernah saya buat. Saya memang kehilangan, namun banyak mendapatkan. Tidak hanya kesempatan baru, ilmu baru, teman-teman baru, cara pandang baru, dunia baru, yang paling berharga adalah diri saya yang dulu

Ketika saya merenungkan bagaimana saya bisa berada di tempat ini, hari ini, menuliskan postingan curcolan ini, saya akan teringat keputusan di malam tanggal 5 Desember 2014 itu.

Ketika saya ingat pada hari itu, saya teringat tuntunan ilahi - Tuhan. 

Sumber segala pengetahuan melampaui akal.

Kamis, 16 Juli 2015

Memilih Insomnia: SEBUAH KEMENANGAN KECIL

Iya, saya kembali curcol setelah lebih dari dua minggu curcol terakhir terposting.

Maksudnya "memilih insomnia", karena besok saya mulai libur panjang sampai minggu depan karena hari raya. Jadilah saya mengerjakan tugas yang saya deadline sendiri harus selesai di akhir minggu depan. Yah, kalau tidak begitu, mendingan saya balik mati suri saja. Tulisan ini adalah "intermezo". Tapi saya tidak menyanggah bila anda mengatakan ini "procastinating". Suit yourself~

Dua minggu bangkit kembali dari kuburan, saya menyadari ada yang berubah dari dalam diri saya. Misalnya, entah mengapa kawah candradimuka yang dulu kelihatan mengerikan, tidak begitu mempengaruhi saya seperti sebelumnya. Lalu, iblis-iblis yang dahulu menakutkan, bahkan tidak lagi dapat membuat saya gemetar. 

Namun demikian, ketika saya sedang sendirian di bilik nyaman, terkadang roh-roh yang dulu pernah menguasai saya, seolah mencoba kembali merasuki diri saya lagi. Dari situlah, saya menyadari, tidak ada luka yang dapat sembuh seratus persen. Ada ungkapan, manusia yang baru lahir ibarat sebuah kertas putih raksasa, yang mana orang-orang sekitarnyalah para penulisnya. 

Akan tetapi, walaupun berbekas, tulisan-tulisan buruk bisa saja dihapus. Ini yang dinamakan reformasi. Dan ini membutuhkan sebuah keputusan dari anda untuk menghapusnya. Sebab dunia mungkin tidak berubah, tetapi anda BISA berubah.

Ucapan dan sikap seseorang mencerminkan hatinya. Orang yang mengucap cap-cap buruk, bersikap buruk, adalah tanda hatinya yang busuk. Maka itu penting untuk membersihkan hati kita supaya tidak terbawa arus keruh ini. Hari ini, seseorang mengucap hal yang menyakitkan hati saya. Dia mengucapkannya dengan nada bercanda, tetapi terasa bagaikan cap yang selama ini saya percaya sebagai suatu kebenaran. Kendati, saat itu, hati saya tertusuk. Saya heran. Sebab tidak ada amarah yang muncul ke permukaan. Saya malah terdiam. Ikut sekeliling yang ikut terdiam pula. 

Kemudian malam ini, di dalam bilik saya, rasa sakit itu tiba-tiba saja datang bertubi-tubi. Begitu nyeri, sampai saya menangis. Tetapi heran. Seperti siang tadi, saya sama sekali tidak marah pada orang itu. Yang muncul adalah rasa bangga, bahwa saya bisa menyikapi sikap kampungannya itu dengan gaya dewasa. LOL

Setelah bermeditasi sejenak, saya menyadari, bahwa saya telah berubah. Wow. Setelah ketakutan yang amat sangat, lebih dari dua minggu yang lalu, karena akan menghadapi dunia, ternyata saya sudah siap untuk ini semua.

Entah bagaimana dengan tantangan di hari esok, tetapi biarlah hari ini saya menikmati kemenangan kecil saya. ;)






Senin, 06 Juli 2015

Buah Insomnia: PILIHAN

Mungkin ini sekedar sharing, mungkin juga sebuah pengakuan besar-besaran, mungkin juga sebuah perenungan. Bisa jadi, di akhir tulisan ini anda baru dapat memutuskan yang mana.

Tidak pernah ada manusia yang memilih untuk dilahirkan. Kendati demikian, anda sekalian tentunya ada karena pilihan. Sederhananya, bayangkan bila kedua orangtua anda memutuskan tidak jadi menikah.

Namun demikian, sepanjang hidupnya, manusia selalu diperhadapkan dengan pilihan-pilihan. Baik kecil/sepele maupun besar.
Mau makan apa? 
Mau pergi kemana? 
Mau sekolah di mana? 
Mau kerja apa? 
Mau menikah dengan siapa? 
Mau anak berapa?
Mau berteman dengan siapa?
Mau memaafkan kesalahannya atau tidak?
Mau berbuat baik atau tidak?
Mau cuekin atau tidak?
Mau diam atau bicara?

Berawal dari dua setengah tahun sebelumnya, saya memiliki pengharapan yang cukup tinggi pada sebuah institusi, saya memilih sebuah jalan yang dirasa aman untuk masa depan. Namun ternyata salah. Mau kecewa, mau marah, mau lari, saya tidak bisa. Saat itu saya merasa satu-satunya jalan hanyalah terus bertahan hingga harapan tercapai. Tetapi kemudian shit happened

Gambarannya seperti seseorang yang mengembara di sebuah padang tak bernama. Dari jauh nampak berkilau emas, tetapi ketika didekati yang dikira emas ternyata kawah-kawah Candradimuka. Sang pengembara tetap bertahan. Satu persatu kawah berhasil dilewatinya. Sayangnya tiada tempat untuk membaringkan kepalanya. Lelah, luka, terseok-seok, sang pengembara tetap melangkah maju. Hingga suatu hari, akibat kelelahannya, sang pengembara jatuh ke dalam sebuah kawah tanpa sempat mengantisipasi.

Kendati demikian, sang pengembara pun berhasil keluar dari lubang iblis itu. Namun sayang, kawah yang terakhir itu telah menguras seluruh tenaganya, hingga ia tak dapat lagi bertahan dari kawah selanjutnya. Dia pun mati suri.

Dalam keadaan itu, mata sang pengembara dicelikkan Tuhan. Dia baru ingat, bahwa dia punya pilihan. Masih ada padang lain yang lebih aman dan juga memiliki emas. Dalam mimpi surinya, Tuhan memberinya waktu untuk menentukan pilihannya.

Dan saat ini saya dalam keadaan mati suri.
***

Tetapi saya tidak ingin membicarakan keadaan mati suri saya. (Kendati hal itulah yang membuat saya insomnia dan alasan terciptanya tulisan ini). Puji Tuhan, dalam kondisi ini, saya memiliki banyak waktu untuk merenung dan menyadari lebih dalam mengenai pilihan-pilihan yang nampaknya sepele dalam hidup manusia.

Lebih spesifik lagi, dalam hubungan antar manusia.

Pernahkah anda memaki putra anda karena dia mengganggu anda bekerja? Bagaimana jika saya katakan bahwa sesungguhnya putra anda ingin menunjukkan gambarnya sebagai tanda cintanya?

Pernahkah anda memilih untuk meremehkan seorang yang kelihatan tak berkoneksi? Bagaimana jika saya katakan kepada anda, bahwa sesungguhnya dia adalah putra presiden?

Pernahkan anda memilih untuk menuduh bawahan anda hendak pulang sebelum waktunya, hanya karena sang bawahan membawa tas di koridor yang menuju pintu keluar? Bagaimana jika saya katakan, bahwa sesungguhnya sang bawahan sebenarnya hendak melanjutkan pekerjaannya di lantai atas yang kebetulan tangganya dekat dengan pintu keluar?

Pernahkan anda memilih untuk bersikap keras pada putri anda? Kemudian ketika putri anda sudah dewasa, anda malah bertanya-tanya mengapa hubungan anda begitu buruk dengan dia?

Pernahkah anda memilih untuk mempermalukan seseorang di depan umum karena kesalahannya? Bagaimana kalau saya katakan bahwa sesungguhnya orang itu tidak bersalah?

Pernahkah anda memilih untuk tidak memaafkan seseorang? Kemudian ketika hidup anda tidak bahagia, dan anda bertanya-tanya apa sebabnya?

Bagaimana bila posisi anda dibalik dengan objek yang anda lukai?

Hubungan antar manusia tak lepas dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil. Kita pun tidak pernah sungguh mengenal orang-orang di sekitar kita. Sekalipun itu saudara kita sendiri. Apalagi bawahan kita. 

Maka itu. saya pun memutuskan untuk berbuat dan bersikap baik pada seseorang. Kita tidak pernah tahu ada apa di masa depan. Bila marah, usahakan seperlunya saja hingga subjek yang kita marahi mengerti kesalahannya. Lebih dari itu, berarti anda memilih untuk mengkonsumsi api nafsu anda alih-alih memperbaiki apa yang salah. Dengan demikian anda akan mendapatkan respek dari orang-orang di sekitar anda. Termasuk orang-orang yang memilih untuk merugi, dengan tidak menyukai anda.
***




Sabtu, 14 Februari 2015

Come Back Writing

Happy Valentine, all.
Lama nggak menulis. Biarlah hari ini. dimanfaatkan untuk post tulisan perdana setelah sekian lama. Memang agak rusty, maka dari itu daripada cerpen, lebih baik prosa saja. Hahaha...

-----------------------------------------------
PENGHINAAN


Dia menegur seolah tiada maksud. Dari luar suaranya terdengar ramah, akrab tak biasa.

Lantas beberapa kalimat terucap, mengajak semua memasang telinga baik-baik. Barulah kemudian aku tahu, maksud seperti yang seharusnya sudah diduga.

Aku dihinakan.

Kata demi kata diucapnya. Halus, manis, penuh tawa, namun terasa panas menusuk. Seperti ketika pisau Delila memotong rambut Samson. 

Hentikan.
Hentikan.
Kataku. Tetapi pengecut hanya bisa mengucap dalam hati. 

Detik dan menit kekejian berlalu tiada ampun. Siksaan kata penghinaan dari sang iblis yang mengendalikan kedagingannya. Nafsu jemawa semakin terpuaskan oleh pandangan yang semakin banyak merapat.

Saat itulah aku mati.
....

Aku tersentak saat bahuku ditepuk lembut penuh hangat. Sahabat mendekap tepat di saat hujan turun.
Lama. Lama sekali. Derasnya membuat sahabat enggan pulang.

Kesabaran mereka membawa hasil. Pelangi datang, membawa pengharapan.

Bahwa aku tidak sendiri. 

Kami tidak sendiri.


Tangerang, 14 Februari 2015